TM menjalankan berbagai program Pengembangan Masyarakat sebagai wujud komitmennya terhadap pemenuhan CSR serta untuk memenuhi ketentuan dan
peraturan Pemerintah yang ada.

Program-program Pengembangan Masyarakat yang dilakukan ITM dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori. Kategori pertama adalah program pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk menigkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan memberikan akses kepada sumber daya modal maupun peningkatan keterampilan, serta dukungan pengembangan ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya setempat.

Kategori kedua adalah aktivitas pembangunan sosial yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui pengadaan fasilitas kesehatan dan pendidikan maupun program-program pelestarian budaya dan kesenian lokal. Sedangkan kategori ketiga adalah pelestarian lingkungan, terutama melalui dukungan kepada Taman Nasional Kutai, pendidikan lingkungan untuk anakanak, program kesadaran lingkungan, dan program penghijauan.

Penentuan aktivitas program dilakukan dengan pertama-tama mengadakan survai mengenai kondisi dan sumber daya lokal yang tersedia, yang dilakukan oleh komunitas yang bersangkutan dengan pengarahan dari personil Community Development Officer (CDO) ITM. Hasil survei tersebut menjadi dasar bagi proses pemilihan program prioritas oleh FKM yang dibentuk di masing-masing desa dampingan. FKM beranggotakan perwakilan masyarakat dan tokoh atau pemuka masyarakat yang dipilih secara demokratis melalui rapat desa. FKM di setiap lokasi site mengadakan pertemuan rutin dua kali dalam setahun untuk membahas program prioritas dan program kerja yang direvisi dari waktu ke waktu sesuai dengan ketersediaan anggaran, jangka waktu program dan tenaga pelaksana yang diperlukan.

Pertemuan FKM membahas berbagai usulan program yang masuk untuk memastikan bahwa program-program tersebut mewakili kebutuhan aktual masyarakat dan akan memberikan sebanyak mungkin manfaat bagi warga masyarakat. Dengan demikian, pemilihan program dilakukan berdasarkan kesepakatan warga masyarakat melalui perwakilannya dalam FKM, dan bukannya atas kemauan individu atau kelompok kecil tertentu.

Dari sudut pandang ITM maupun pemerintah setempat, keberadaan FKM juga merupakan sarana untuk menjaga harmoni sosial di masyarakat terkait dengan aktivitas Perusahaan, sekaligus untuk mendorong menumbuhkan kemandirian komunitas di sekitar areal operasional Perusahaan. Komunitas-komunitas ini nantinya diharapkan dapat merencanakan, melaksanakan dan mengawasi pembangunan desa atau wilayah atas inisiatif sendiri, dengan praktik-praktik pembangunan berkelanjutan menggunakan sumber daya dan potensi setempat. Pada gilirannya, ini akan mengurangi ketergantungan komunitas-komunitas tersebut pada Perusahaan.

Salah satu program bidang pembangunan ekonomi pada tahun 2009 adalah pembentukan suatu Lembaga Keuangan Mikro (LKM) oleh PT Indominco Mandiri bekerja sama dengan PT Permodalan Nasional Madani, menyediakan modal awal sebesar Rp 100 juta kepada LKM yang menjalankan aktivitas koperasi simpan-pinjam. Saat ini, sekitar 65 anggota telah tercatat melakukan berbagai aktivitas ekonomi yang produktif dengan bantuan pinjaman modal dari LKM.

ITM juga telah mengembangkan Community Development Management Information System, sebuah perangkat sistem informasi on-line, untuk memantau kemajuan program-program Pengembangan Masyarakat di berbagai lokasi. Salah satu kunci keberhasilan programprogram Pengembangan Masyarakat yang dijalankan oleh Perusahaan adalah partisipasi aktif dari pihak warga masyarakat dan Pemerintah Daerah, selain tentunya kepedulian dan dukungan dari Perusahaan sendiri.

Comments are closed.